
Mataram, 27 September 2024.- Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram sukses menggelar Konferensi Mahasiswa dengan tema “Student Engagement in Multidisciplinary Research in the Fields of Education, Science, and Technology” atau “Keterlibatan Mahasiswa dalam Penelitian Multidisipliner di Bidang Pendidikan, Sains, dan Teknologi.” Acara ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka, dengan tujuan mendorong pembelajaran lintas disiplin dan kolaborasi antarbidang. Salah satu momen yang paling dinanti adalah ketika Khalifia Zaikalina, mahasiswi dari program studi Pendidikan Bahasa Arab, menyampaikan presentasinya dalam bahasa Inggris dengan judul penelitian “AI-Based Maharah Qiraah Learning: Analytical Study on the Book of Matan Taqrib, Chapter on Fasting”
Dengan percaya diri, Khalifia tampil di hadapan peserta dan memaparkan penelitiannya yang mengkaji penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran Maharah Qiraah (keterampilan membaca). Kajiannya berfokus pada studi analitis terhadap teks klasik Islam, Matan Taqrib. Khalifia menawarkan pandangan baru tentang bagaimana pendidikan agama tradisional dapat dikembangkan dengan bantuan teknologi modern, khususnya AI.
Langkah Berani Menggabungkan Tradisi dan Teknologi
Dalam pembukaannya, Khalifia menyoroti pentingnya mengintegrasikan AI dalam konteks pendidikan Islam, terutama dalam pengajaran Maharah Qiraah yang sangat mengandalkan keterampilan bahasa. “Kita berada di era di mana teknologi, khususnya AI, merevolusi setiap aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Dengan mengintegrasikan AI dalam pengajaran keterampilan membaca, kita dapat menawarkan pengalaman belajar yang personal dan efektif, sambil tetap menjaga nilai-nilai inti pendidikan Islam,” ujarnya.
Penelitiannya terinspirasi oleh kebutuhan untuk membuat teks-teks agama lebih mudah diakses oleh siswa modern, yang sering kali merasa kesulitan dengan bahasa Arab klasik. Pendekatan Khalifia bersifat dua arah: ia menggunakan alat AI untuk menganalisis struktur linguistik teks dan menciptakan model pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman pengguna. Sistem ini memberikan umpan balik secara real-time dan membimbing siswa dalam memahami tata bahasa dan kosa kata kompleks dari Matan Taqrib, sehingga memudahkan pemahaman konsep teologis yang terkait dengan puasa.
Penggunaan AI oleh Khalifia sangat inovatif, melebihi perangkat lunak pembelajaran bahasa tradisional dengan mengintegrasikan pengenalan suara dan pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing). Fitur-fitur ini memungkinkan AI tidak hanya menilai pemahaman tertulis tetapi juga pengucapan dan kefasihan, membantu siswa meningkatkan kemampuan mereka dalam melafalkan teks-teks Islam, keterampilan yang sangat penting dalam ibadah maupun studi keislaman.

Yang membuat presentasi Khalifia begitu istimewa adalah kemampuannya untuk melibatkan audiens dengan aplikasi dunia nyata dari penelitiannya. Ia mendemonstrasikan bagaimana model AI yang dikembangkannya dapat digunakan oleh siswa untuk berinteraksi dengan teks *Matan Taqrib*, menjawab pertanyaan tentang kompleksitas hukum puasa dalam syariat Islam. Dalam demonstrasi langsung, Khalifia menunjukkan kemampuan perangkat lunak untuk menguraikan frasa-frasa sulit dan memberikan penjelasan secara mudah dipahami.
Dampak Multidisipliner dan Potensi Masa Depan
Penelitian Khalifia juga menyentuh tema pendidikan yang lebih luas. Ia menjelaskan bahwa meskipun penelitiannya berakar pada konteks pendidikan Islam, metodologinya dapat diterapkan di berbagai bidang lain, termasuk sains dan teknologi. “AI dapat meningkatkan proses belajar dalam bidang apa pun dengan memberikan pengalaman pendidikan yang dipersonalisasi, yang sangat penting untuk meningkatkan daya serap dan penguasaan pengetahuan,” katanya.
Sejalan dengan tema konferensi yang menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam penelitian multidisipliner, presentasi Khalifia menjadi contoh sempurna bagaimana berbagai bidang ilmu dapat bersatu. “Dengan mengintegrasikan AI ke dalam studi Islam, kita tidak hanya melestarikan tradisi kita, tetapi juga membuatnya lebih relevan dan mudah diakses oleh generasi muda. Hal ini sangat penting dalam dunia di mana teknologi semakin menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan,” tambahnya.
Penelitiannya yang menggabungkan pendidikan agama dengan teknologi mutakhir ini memecah batasan disiplin dan memberikan preseden bagi penelitian serupa di masa depan.
Konferensi mahasiswa di UIN Mataram, melalui presentasi seperti yang disampaikan oleh Khalifia Zaikalina, menunjukkan bahwa masa depan pendidikan terletak di persimpangan antara tradisi dan teknologi. Karya Khalifia tidak hanya mencerminkan tema konferensi, tetapi juga menjadi cahaya penuntun bagi penelitian masa depan yang menjembatani kedua domain penting ini.

